KRITIK SASTRA

Chimamanda, Feminisme dan Orang-Orang Tak Tahu Lawan

  • Judul Buku: A Feminist Manifesto (Manifesto Feminis)
  • Penulis: Chimamanda Ngozi Adichie
  • Penerbit: Odyssee, Yogyakarta
  • Ketebalan: viii + 81 hlm

Perempuan yang memakai rok mini, perempuan bercelana panjang, perempuan berjilbab, perempuan berambut keriting dan perempuan yang mengikat rambutnya serta tampilan yang menggambarkan perempuan feminin dan maskulin. Yah, begitulah gaya ilustrasi yang menarik dalam sampul buku ini, menunjukkan makna sebuah keberagaman identitas seorang perempuan. Lalu, apa maksud dan kaitannya antara sampul dengan pembahasan yang ditulis oleh Chimamanda?

Namun sebelumnya, jangan mengartikan kata feminin menunjukkan sifat perempuan semata dan maskulin merupakan sifat laki-laki, seakan-akan bermakna pembagian gender tersebut bersifat mutlak. Walaupun dalam KBBI menerjemahkan seperti demikian, namun hal tersebut patut dilayangkan kritikan pula. Mengingat, kemungkinan besar yang menyusun kamus besar tersebut tidak begitu ramah terhadap gender. Kita ketahui bahwa sikap feminin dimiliki setiap manusia begitupun sikap maskulin dimiliki oleh laki-laki dan perempuan.

“A Feminist Manifesto: Kita Semua Harus Menjadi Feminis” merupakan buku yang ditulis oleh seorang penulis asal Nigeria yang juga menghasilkan berbagai karya seperti novel, cerita pendek dan esai serta menolak segala diskriminasi dan marginalisasi yang dilakukan secara terang-terangan di sekitarnya.

Bumi bergejolak dengan segala persoalannya, begitupun istilah feminisme yang masih saja dianggap begitu berat dan berjarak karena dipenuhi dengan stereotip negatif dari masyarakat, terkhusus di Indonesia. Dalam suatu kesempatan, salah satu organisasi kemahasiswaan mengadakan sebuah dialog bertajuk gender, kemudian dikritik oleh seorang senior laki-laki dengan tanpa beban memekik kalimat, kira-kira seperti ini “dalam ajaran agama tidak ada pembahasan tentang kesetaraan gender, jadi jangan melaksanakan dialog gender dalam organisasi ini”.

Kemudian lebih dramatis lagi dalam kajian tentang perempuan perspektif agama, dengan rasa kaget pemantik perempuan mengutarakan pandangannya “Feminisme datangnya dari Barat, jadi dalam agama tidak ada kata feminisme”.

Banyaknya stigma tentang feminis sehingga semakin menambah adrenalin kebanyakan kalangan perempuan dalam menyuarakan kebenaran. Saat ini, masih banyak gagasan klise tentang feminis yang sering kali diasosiasikan dengan sekumpulan para perempuan yang tak bermoral, maskulin, menolak berdandan, membenci laki-laki, menolak ajaran agama dan lain sebagainya. Padahal tujuan feminisme ialah tercapainya kesetaraan gender dalam berbagai aspek dan feminisme pun bukan hanya diperuntukkan bagi perempuan. Feminisme adalah cara pandang atau ideologi.

Pembagian Gender yang Tak Adil

Salah satu pengalaman Chimamanda tentang subordinasi. Pada saat berusia kecil di sekolah dasar, ketika Chimamanda berambisi menjadi pengawas kelas akan tetapi aturan yang mengejutkan dari guru bahwa pengawas kelas harus seorang laki-laki. Padahal, skor yang diperoleh Chimamanda lebih tinggi daripada laki-laki yang juga sama sekali tak berminat menjadi kepala kelas, hal tersebut membuat Chimamanda sakit hati.

Cerita lain datang dari regulasi pemerintah AS yang dinilai sangat mendiskriminasi posisi perempuan. Regulasi tersebut berisi bahwa seorang laki-laki dan perempuan melakukan pekerjaan yang sama, dengan kualifikasi yang sama, akan tetapi laki-laki akan diupah lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Dengan ini terlihat jelas bahwa seorang pemimpin yang lebih berpengetahuan luas belum tentu mampu berlaku adil dan ramah terhadap gender dalam menjalankan tugas sebagai perwakilan rakyat.

“Kita harus merawat kemarahan, Gender sebagaimana fungsinya hari ini merupakan ketidakadilan yang serius. Kita semua harus marah, sebab kemarahan memiliki sejarah panjang untuk membawa perubahan baik” Chimamanda dalam ultimatumnya.

Selain itu, konstruksi budaya yang melekat di sekitar kita dan menggurita sampai saat ini adalah bahwa perempuan selalu diajari untuk tidak terlalu tangguh dan tidakagresif dalam hal apapun serta melakukan sesuatu hanya untuk disukai orang lain tanpa memikirkan dampaknya, apatah lagi berpenampilan cantik hanya untuk menyenangkan dan membuat laki-laki tertarik. Sehingga hal demikian menjadi penyebab langgengnya perlakuan ketidakadilan gender terhadap perempuan.

Dekonstruksi Budaya Ketidakadilan Gender adalah Keharusan?

Untuk itu, dengan hidup dalam budaya patriarki, Chimamanda menawarkan beberapa anjuran untuk mendidik seorang anak perempuan agar kelak mampu tumbuh dengan perlakuan yang sama dan mengeliminasi budaya patriarki dari skala kecil seperti lingkungan keluarga. Hal tersebut dapat dimulai dari bangunan pola pikir bahwa perempuan adalah seorang feminis, ia tidak dilahirkan untuk berada di bawah laki-laki begitupun di atasnya, melainkan tercipta sebagai penyetara dari kehidupan yang timpang dan mimpi buruk bagi ketidakadilan.

Begitupun sebagai orang tua harus menanamkan sebuah tata nilai bahwa seorang ibu adalah manusia yang sepenuhnya dalam berumah tangga dan menolak gagasan bahwa bekerja dan menjadi IRT tidak mungkin dilakukan secara bersamaan. Pekerjaan rumahtangga dan pengasuhan haruslah netral gender, cara terbaik ialah orang tua mesti dapat membagi porsi tugas ganda nya di ranah publik dan domestik.

Simone De Beauvoir dalam bukunya Second Sex: Kehidupan Perempuan, menjelaskan dengan begitu getir bagaimana kehidupan berjalan dengan sistem pembagian gender yang dikonstruksi dan diatur mulai dari seorang bayi perempuan dilahirkan sampai menjadi perempuan dewasa dan berumahtangga. Bayi perempuan dilekatkan dengan benda berwarna pink dan laki-laki warna biru, anak kecil perempuan didekatkan dengan mainan boneka dan laki-laki mobil mainan kemudian di usia dewasa diajarkan untuk menjadi perempuan yang lembut dan berpenampilan yang baik untuk disukai banyak orang serta menjadi perempuan perfeksionis dihadapan laki-laki. Hal kecil inilah yang mungkin sering disepelekan, namun hal tersebut bagian penting dari salah satu faktor pemicu lahirnya ketidakadilan gender.

Lebih lanjut, hal yang patut ditolak pula adalah istilah Feminism Lite yang merupakan gagasan tentang kesetaraan perempuan bersyarat. Cenderung menggunakan bahasa mengizinkan atau membiarkan dirimenjadi terbelakang, bagaikan laki-laki adalah kepala dan perempuan adalah lehernya. Beberapa orang mengatakan perempuan lebih rendah dari laki-laki karena perkara demikianlah yang mewarnai kehidupan dan budaya kita dalam masyarakat. Sebuah pertanyaan spekulatif: apakah budaya akan terus menetap seperti apa adanya sesuai dengan perkembangan zaman?

Fungsi budaya pada akhirnya ialah memastikan pelestarian dan keberlanjutan masyarakat. Sebab, budaya tidak membentuk manusia. Manusialah yang membentuk budaya. Budaya yang berkalung ketidakadilan baik segi ekonomi, sosial, politik maupun gender patut mengalami fase pembaharuan sehingga siklus kehidupan sehari-hari kembali dan atau bergerak pada prinsip nilai (kemanusiaan dan keadilan).

 

Penulis: Ita Rosita, Ketua Umum Kohati Komisariat Ushuluddin, Filsafat & Politik Cabang Gowa Raya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *