PERSPEKTIF

Gerakan Menghidupkan Koperasi di Tubuh HMI Cabang Gowa Raya

Diawali dengan kegelisahan saya melihat ketimpangan sosial akibat bentuk ketidakadilan di Indonesia yang secara kasat mata terlihat begitu saja. Mencoba untuk memahami problem ini terjadi ada apa?
Lewat hasil bacaan, menemukan akar permasalahan ketimpangan sosial, yang tak lepas dari sistem ekonomi kita yang masih carut marut, dimana masih abu-abu dalam mengambil kebijakan keputusan dalam sektor ekonomi.

Saya bergerak untuk mengusahakan berbuat sesuatu demi mengatasi problem tersebut, dari hasil bacaan dalam sub bagian Kritik Nalar Ekonomi Islam tulisan Dawam Rahardjo. Saya menemukan sebuah solusi dalam buku tersebut, yang dimana hal ini tidak menjadi lirikan oleh penulis ekonomi indonesia.

Yaitu, sebuah sistem lembaga yang bernama koperasi, tentu ini di pandang sebelah mata oleh kita, karena koperasi yang kita lihat di Indonesia dominan banyak yang mengorientasikan pada keuntungan semata, bukan pada memberikan kesejahteraan buat golongon/kolompok kecil seperti fakir miskin dan ukm skala mikro dan kecil yang begitu-begitu saja.

Padahal, di negara-negara maju lainnya justru melirik koperasi sebagai perhatian khusus, sebagai bentuk terjadinya tantangan tersendiri dalam sistem kapitalisme. Mengapa kita warga indonesia yang notabene kultur kita gotong royong, tentunya terhubung dengan arti Koperasi, yakni bekerja secara bersama-sama.

Olehnya, kita perlu mulai dari lingkup Cabang Gowa Raya, dengan hadirnya Koperasi ini, sebagai wadah yang suatu saat akan bermanfaat bagi penerus generasi kader selanjutnya, ketika kita berhasil membuat koperasi maka kita mampu menghidupkan dan menopang komisariat sejajaran di Cabang Gowa Raya.

Sekiranya, kita mampu bergerak bersama untuk bisa sama-sama menggerakkan ekonomi lingkup cabang yang nantinya diharapkan ketika koperasi sudah menjalankan usaha maka mampu memberikan dampak bagi perkaderan kita di tataran komisariat. Tak hanya itu kita bisa memberikan pemahaman mengenai literasi koperasi mulai dari mahasiswa hingga masyarakat awam, bahwasanya koperasi itu sekumpulan manusia yang memilki usaha, bukanlah sekumpulan modal yang menyamakan deskripsi perseroan terbatas.

Dengan kita membuat Pelatihan Ekonomi Mandiri di lingkup komisariat yang di fasilitasi oleh Koperasi Cabang Gowa Raya yang insyallah akan segera dibentuk oleh bidang Kewirausahaan dan Pengembagan Profesi (KPP), maka akan ada tenaga kader yang terampil dalam teknis di bidang disiplin ilmunya masing-masing yang tak hanya sebatas teori saja , melainkan keterampilan teknis sudah mempuni. Sehingga setelah selesai dari kampusnya mampu mencipta arena kerja baru di luar sana.

Mari kita mengawali semuanya dengan membuat kader HMI Cabang Gowa Raya untuk menjadi anggota koperasi, dan menabung di wadah tersebut. Pada nantinya hasil tabungan ini akan menjadikan dana untuk usaha HMI Cabang Gowa Raya, kemudian akan dikelola juga dalam bentuk pengembangan skill kader HMI lewat pelatihan maupun perkaderan. Dan juga kita bisa membuat sekolah koperasi untuk tataran pelaku ukm mikro dan kecil, agar bermanfaat untuk mereka, yang tak paham akan tujuan koperasi itu sendiri.

Hidupnya koperasi dan usaha mandiri lainnya di tubuh HMI akan semakin mempertegas independensi organisasi.

Penulis : Fahrizal Ubbe, Mahasiswa STIEM Bongaya yang merupakan Kader HMI Cabang Gowa Raya yang sedang berjuang sebagai Penggiat Koperasi dan UKM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *