PERSPEKTIF

Kiat Sukses Menjadi Politisi Dengan Ber-HMI

Jujur saja, kalau kita lihat spanduk atau pamflet Basic Training HMI hari ini, kita akan berfikir, ini pamflet kampanye calon anggota dewan atau pamflet kegiatan organisasi mahasiswa?

Kita sulit membedakannya, sebab keduanya terlalu mirip. Keduanya sama-sama memajang foto politisi dengan wajah senyum yang dipaksakan, berikut dengan jabatan dan posisinya di lembaga pemerintahan. Di situ ada pula seruan yang sama seperti spanduk kampanye, seruan mengajak orang untuk ikut, entah ikut kemana. Ikut jadi calon anggota HMI atau ikut jadi simpatisan politisi yang ada di spanduk tersebut?

Memang apa pentingnya memasang wajah politisi tersebut? Memangnya tidak ada foto lain? kalau alasannya, karna mereka alumni HMI yang sukses, memangnya yang lain tidak sukses? Apakah tolok ukur sukses dalam pikiran kader HMI hanya sebagai politisi? Terus alumni yang lain yang berkarir di luar pemerintahan dan birokrasi itu tidak bisa dikatakan sukses? Apa sih konsekuensi dari cara berfikir seperti ini?

Semuanya dimulai saat Basic Training

Dari sejak awal, kita dicekoki tentang kehebatan senior kita di galanggang perpolitikan. Kita diberi cerita bagaimana mereka memenangkan pertarungan, bagaimana mereka mampu berkompromi dan berkoalisi dengan oligarki, sehingga mereka bisa sampai pada satu jabatan. Kita sebagai calon kader, yang rata-rata mahasiswa baru, menginternalisasi hal itu sebagai sesuatu yang luar biasa.

Dengan agak berlebihan, kita membayangkan mereka sebagai figur yang ideal, sosok kader sempurna dan patut untuk diteladani. Kita justru tidak pernah di ajari bagaimana busuknya sistem perpolitikan kita hari ini, kita tidak pernah diberitahu, bahwa senior kita juga punya andil dalam terciptanya kemelaratan, kemiskinan, penggusuran warga miskin kota, perampasan hutan adat, perampasan hak buruh, yang semua itu sangat jauh dari nilai-nilai luhur sebagai insan cita, sebagai kader HMI.

Seharusnya mereka dalam Basic Traning atau forum lain di HMI tidak ditampilkan sebaga figur ideal, tetapi sebagai bahan evaluasi. Mengevaluasi catatan pengkhianatan dan kesalahan mereka sebagai kader, yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur.

Mengidolakan mereka terlalu berlebihan, hanya akan mendistorsi pikiran kader tentang tujuan HMI. Mengagumi mereka, hanya akan menjauhkan kita untuk mencapai pulau harapan terciptanya tujuan HMI, terciptanya kader yang memilki kepribadian insan cita.

Konsekuensi Bagi Organisasi dan Kader

Wajarlah jika kemudian banyak hari ini, kader HMI yang melakukan politik praktis, membantu seniornya meloloskan agenda-agenda politik yang tidak pro rakyat, yang membodohi dan tidak membebaskan seperti politik uang dan segala macamnya. Seorang kader HMI yang seharusnya memberikan perbedaan dan warna yang berbeda, menjadi tidak ada. Seakan-akan pola perkaderan panjang yang di tempuh di HMI, menjadi sia-sia dan tidak berguna.

Wajarlah juga jika iklim inteletualitas itu redup di HMI, karna itu memang kurang dihargai. Menjadi seorang insan akademis itu bukan tujuan utama, yang terpenting adalah kau bisa beretorika, kau punya kemampuan berbicara yang menyilaukan pendengar, menutupi kebenaran jika nanti kau jadi seorang legislator atau eksekutor. Berfikir yang saintifik, yang sesuai fakta dan data, menjadi tidak dikedepankan. Sekali lagi yang penting adalah retorika yang penuh dusta dan koneksi dengan senior elit di pemerintahan atau di birokrasi kampus.

Dalam pemikiran sosiologis, seseorang itu berkembang dan dibentuk oleh kelompok sosialnya, oleh proses-proses sosial yang membentuknya sebagai seorang pribadi. Kita menjadi sukar membentuk kualitas kader yang ideal jika kita tidak menciptakan kondisi lingkungan sosial yamg demikian. Kondisi lingkungan sosial yang kontruktif tapi membebaskan. Sebuah wadah yang bersandarkan pada nilai akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam, dan bertujuan menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Mengubah HMI, Mengubah Indonesia

Himpunan Mahasiswa Islam merupakan salah satu organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia. HMI telah menjadi saksi dan sekaligus pelaku sejarah dari dinamika yang ada di negeri ini. HMI adalah kekuatan sosial yang potensial untuk membangun sebuah tatanan yang lebih baik dan ideal. Hal itu dapat tercapai jika HMI mampu mengevaluasi dan berbenah diri dengan sejarahnya, berbenah melihat tantangan zaman yang semakin pelik.

Kita sebagai kader yang cinta kepada himpunan ini, harus memikirkan kembali, tentang bagaimana paradigma kita tentang organisasi ini. apakah kita menganggap himpunan ini sebagai sebuah wadah yang sudah tidak memilki tujuan dan landasan ideologis yang kuat, yang hanya menciptakan kader tanpa misi dan tanpa kepribadian yang tercantum dalam tujuan dan khittah perjuangan HMI. Apakah semua hal-hal ideal yang kita ucapkan dalam forum-forum HMI hanya sampai di ujung lidah, dan tidak menemui perencanaannya menuju sebuah praksis?

Maka dari itu, kita perlu berbenah. Kita perlu mengintrospeksi diri tentang bagaimana himpunan hari ini, tentang bagaimana peran kader HMI di tengah masyarakat, tentang bagaimana pola perkaderan yang membentuk sesosok kader yang visioner. Kita juga perlu menghargai kader yang memilih jalan sunyi, memilih jalan pengabdian yang jauh dari lingkaran politik praktis pemerintahan, memilih jalan akademis untuk mengabdi, memilih jalan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat.

Kita perlu juga mengapresiasi pengurus organisasi yang memang betul-betul ingin menghadirkan wadah organisasi yang ideal, organisasi kontruktif yang komprehensif, tidak melulu menjadikan seseorang sebagai politisi, tidak melulu harus memegang jabatan untuk diakui. Lapangan dan jalan pengabdian terhampar begitu luas. Berikan kebebasan dan penghargaan untuk memilih, demi tercapainya HMI dan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang adil makmur.

Penulis: Makmur, Kader HMI Kom. FIS UNM Cabang Makassar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *