PERSPEKTIF

Politik Berparas Perempuan

Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Niat baik kita memperbaiki politik dengan idealisme, itu berarti harus turun dalam kancah politik. Jangan menjauh, mencaci, dan penuh sinisme terhadap politik. Demikianlah kata Gusdur.

Demikian pula dengan Soe Hok Gie, ia menganggap politik adalah barang yang paling kotor. Namun dia tahu suatu saat manusia tak mampu mengendalikan diri lagi, maka terjunlah mereka kedalam politik. Politik diposisikan sebagai hal yang berbahaya, jahat dan mengerikan. yang rusak dalam politik, itu oknum (manusianya).

Menyoal politik dalam paras perempuan menyudutkan saya ke dalam pandangan subjektif perempuan yakni; Cinta. Pada akhirnya cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. Politik idealnya begitu, bukan sekedar retorika. Melainkan, menjalankan kata-kata.

Kata indah nan bijak dari para politisi ulung, sejatinya terwujud dalam tindakan dan prakteknya.
Dalam kajian politik yang paling tinggi, sesungguhnya cinta menempati posisi paling puncak. Tanpa cinta, politik itu akan kehilangan jati diri dan kehalusan jiwa. Ia tak ubahnya seperti singa, memangsa yang ia suka dan benci. Lantas cinta yang mana? Bukan soal cinta roman picisan, seperti seorang pujangga yang memperjuangkan kekasih hatinya, bukan itu.

Dalam politik, perjuangan tertinggi mesti dilandasi dengan cinta yakni cinta kepada kemanusiaan, cinta kepada rakyat, keadilan, serta cinta kepada kehidupan yang aman,tenteram dan sejahtera. Dan yang lebih penting lagi cinta kepada Tuhan yang maha esa.

Itulah esensialitas perjuangan seorang politisi dalam mengarungi samudera politik. Karena inilah, sebagai mahluk yang berperasaan memiliki kasih dan sayang sehingga politik yang berparas dalam perempuan cukup mampu menciptakan kemajuan dan keadilan.
Hal ini dapat kita buktikan bahwa yang tadinya pemimpin perempuan kerap dipandang sebelah mata.

Namun, di tengah pandemi yang melanda dunia seperti saat ini, negara-negara yang dipimpin oleh perempuan terbukti bisa bekerja sama dengan baik.

Mulai dari Islandia hingga Taiwan, Jerman hingga Selandia Baru, para pemimpin perempuan menunjukkan kepada dunia kemampuan mereka. Hal yang sama juga terjadi di Denmark yang dipimpin oleh Perdana Menteri, Mette Frederiksen. Norwegia yang dipimpin oleh Perdana Menteri, Erna Solberg. Finlandia yang dipimpin oleh Perdana Menteri, Sanna Marin. Islandia yang dipimpin oleh Perdana Menteri, Katrin Jakobsdottir. Taiwan yang dipimpin oleh Presiden, Tsai Ing- wen, hingga Selandia Baru yang dipimpin oleh Perdana Menteri, Jacinda Ardern.

Ketujuh negara tersebut dipimpin oleh seorang perempuan. Kendati demikian rata-rata pemimpin perempuan tersebut memang lebih mengedepankan naluri kemanusiaan, dan kepentingan rakyat sehingga angka kematian selama kasus pandemi di Negara yang dipimpin oleh perempuan-perempuan tersebut sangat sedikit dibanding negara-negara yang dipimpin oleh laki-laki.

Cukup nyata terbukti bahwa Kepemimpinan seorang perempuan dalam hal krisis adalah yang terbaik, utama dalam hal ketegasan, inovasi, hingga kepedulian, cinta dan kasih sayang. Misalnya Dalam hal kemajuan teknologi untuk wabah, Katrin Jakobsdottir mungkin adalah orang yang tepat. Di bawah pemerintahannya, Jakobsdottir menawarkan pengujian Covid-19 gratis untuk semua warganya.

Pemimpin Solberg dengan jiwa keperempuanan dan kepekaannya terhadap penerus generasi, ia mengadakan sebuah reservasi khusus di mana tidak ada orang dewasa di sana. Dalam diskusi tersebut, ia menjawab pertanyaan anak-anak dan menjelaskan kepada mereka bagaimana kondisi dunia saat ini. Ide ini tentu membuat banyak pihak terharu. Hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh seorang pemimpin.

Secara umum, empati dan kepedulian yang telah dikomunikasikan oleh semua pemimpin perusahaan ini berasal secara naluriah, dari hati atas dasar cinta. Berbeda dengan Donald Trump, Jair Bolsonaro, Lopez Obrador, Narendra Modi, Duterte, Vladimir Putin dan Benjamin Netanyahu yang lebih mengedepankan cara trifecta otoritarianisme serta aksi menyalahkan orang lain untuk makan dalam krisis.

Sampai disini, saya cukup bisa melihat bahwa politik berparas perempuan cukup bisa menciptakan ruang peduli dan keadilan bagi umat manusia. Dalam dunia politik, berhentilah memandang sebelah mata perempuan. Sebab ada banyak cinta di sana bahkan Dalam kajian politik yang paling tinggi, sesungguhnya cinta menempati posisi paling puncak. Tanpa cinta, politik itu akan kehilangan jati diri dan kehalusan jiwa.

Penulis: Rezki Awalyah, Kader HMI Kom. Sospol Unismuh Makassar Cabang Gowa Raya, memiliki hobi mendoakan keselamatan dan kebahagiaan kalian semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *