KRITIK SASTRA

The Beauty Myth dan Unpretty, Bercerminlah di Mata Kekasih

Cantik atau ganteng kerap menjadi tujuan di saat membeli produk-produk seperti pakaian, make up, skin care, dan lain sebagainya. Namun faktanya, pelabelan atas tujuan tersebut hanya dialamatkan untuk perempuan saja. Lalu pertanyaanya, laki-laki ingin terlihat seperti apa ketika membeli produk-produk tersebut?

Sadar atau tidak, laki-laki dan perempuan berada di posisi yang sama. Mereka terjebak pada posisi mengusahakan diri mereka, pasangan mereka, terlihat cantik dan ganteng. Bersamaan dengan posisi tersebut, perusahaan make over mempropagandakan produk mereka dengan membangun stigma melalui iklan di Televisi, majalah, dan sosial media yang dengan mudah dijangkau konsumen.

Akibatnya, laki-laki dan perempuan menjadikan apa yang dilihatnya di TV, majalah, dan sosial media tersebut sebagai contoh tolok ukur cantik atau ganteng. Inilah kemudian yang dikritik oleh TLC dalam judul lagunya Unpretty dan didukung oleh pernyataan Naomi Wolf bahwa keadaan tersebut merupakan keadaan dimana laki-laki dan perempuan diserang mitos kecantikan.

I wish could tie you up in my shoesMake you feel unpretty too

I was told I was beautiful

But what does that mean to you

Look into the mirror who’s inside there

(Saya berharap bisa mengikatmu di sepatuku

Juga membuatmu merasa tidak cantik

Saya pernah mengatakan bahwa saya pernah cantik

Tapi apa artinya itu untukmu

Bercerminlah, lihat siapa yang ada di dalam sana)

TLC merupakan grup vocal wanita tahun 90-an yang beranggotakan tiga orang. Nama TLC berangkat dari panggilan ketiga personilnya: Tionne (T-Boz), Lisa (Left Eye), dan Rozonda (Chilli). Grup ini mengusung harmoni musik RnB, pop, hip hop, soul, hingga funk. Selain populer di dunia musik, TLC juga populer dengan label sebagai grup vocal wanita yang mengangkat suara perempuan dalam lagunya.

Tidak hanya pada lagunya Unpretty yang berisi kritikan terhadap laki-laki yang mengharuskan kekasihnya menjadi cantik sesuai dengan keinginannya sendiri. Juga ada lagu TLC yang berjudul NO Scrub yang akan menjadi ikon pengingat sepanjang masa bahwa pria tidak bisa seenaknya melakukan catcalling terhadap perempuan.

Kembali pada lagu Unpretty oleh TLC, ketika didengar secara sepintas lagu ini akan dianggap sebagai persoalan kecil sepasang kekasih yang saling mempermasalahkan kecantikan diri masing-masing. Namun mendengarnya saja tidak cukup membangun wacana yang lebih luas, perlu adanya sinkronisasi antara mendengar dan melihat. Ketika menyinkronkan antara lirik lagu dan video klip, terlihat si laki-laki membuka aplikasi khusus bagi mereka yang menginginkan perubahan bentuk dan ukuran di berbagai tempat tertentu pada tubuh. Misalnya menginginkan payudara yang lebih besar.

Namun di lain sisi, dalam video klip ini juga menampilkan seorang perempuan yang berpenampilan lebih berisi sedang membuka majalah model yang terlihat lebih kurus dibanding dirinya. Timbul hasrat untuk menjadi apa yang ditampilkan dalam majalah, bahkan si perempuan menempel wajahnya di atas foto tubuh perempuan yang terlihat lebih kurus dan mengkonsumsi obat penurun berat badan.

Inilah kemudian yang disebut oleh Naomi Wolf dengan kondisi perempuan dan laki-laki yang tengah diserang mitos kecantikan. Naomi Wolf dalam bukunya The Beauty Myth (2002), menuliskan bahwa mitos kecantikan dirancang dengan cara seperti berikut: peringkat yang tinggi sebagai objek seni adalah predikat yang paling berharga yang dapat diraih seorang perempuan dari kekasihnya.

Naomi Wolf menganggap laki-laki cenderung sebagai salah satu penggerak dalam mengubah paradigma perempuan perihal cantik, namun saya menganggap tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan juga melakukan hal yang sama. Saya mengambil contoh laki-laki korea (artis) kerap melakukan operasi plastik demi memenuhi tuntutan memperbanyak fansnya, terbukti banyak fans perempuan yang menyukainya dan tidak mempermasalahkan bagaimana si laki-laki itu bisa mendapatkan kegantengan wajahnya.

Naomi Wolf kemudian menganggap bahwa keadaan tersebut ada sebab laki-laki dan perempuan kurang bercermin, entah pada dirinya maupun pasangannya. Permasalahan yang kerap muncul dipermukaan dewasa ini adalah laki-laki dan perempuan yang menuntut kecantikan dan kegantengan pada pasangan, namun enggan untuk bercermin pada diri dan pasangan bahwa kondisi tubuhnya seiring berjalannya waktu juga mengalami perubahan yang sama seperti pasangannya.

Pemahaman dasar yang harus kita bangun adalah hakikat diri sebagai manusia yang alaminya akan menua dan hal-hal lain dalam diri secara biologis akan berubah. Jika laki-laki dan perempuan bercermin dengan baik di mata kekasihnya yang menua, bahwa seharusnya ia juga sadar telah ikut menua seiring dengan kebersamaan mereka.

Penulis: Rini Asriasni, Kader HMI Komisariat Adab & Humaniora Cabang Gowa Raya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *